Minggu, 26 Agustus 2018

Literasi Di Era Globalisasi

Kata literasi tentu bukan kata yang asing kita dengar. Mendengar kata literasi pasti dalam pikiran kita berkenaan dengan bacaan dan tulisan. Yang perlu diketahui paling dasar oleh masyarakat adalah seperti apakah literasi itu?.
            Secara sederhana memang literasi atau literer istilah lain dari paham aksara. Secara fungsional yaitu kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berhitung, dan berbicara serta kemampuan mengidentifikasi, mengurai dan memahami suatu masalah. Namun dalam konteks sekarang, literasi memiliki arti yang lebih luas lagi yaitu literasi bisa berarti melek teknologi, politik, berpikiran kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar.
Oleh karena itu, kemajuan suatu negara bukan hanya bermodalkan kekayaan alam yang melimpah atau berhasilnya pembangunan infrastruktur maupun bagusnnya tatanan suatu negara. Akan tetapi hadirnya orang-orang yang kuat literasinya dalam negara, dapat melahirkan bangsa yang luar biasa.
Literasi menduduki posisi yang paling penting dalam kehidupan. Al-Quran yang paling pertama diturunkan memerintahkan Rasul kita Muhammad untuk membaca. “Bacalah dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan”. Tidak sampai di situ, adanya perintah untuk menulis, Dia bersumpah dalam kitab suci-Nya, “Demi pena dan apa yang mereka tulis”.
Ketika kita menengok sejarah, para ulama besar terdahulu pun sangat gemar berliterasi, bahkan lebih mencintai mambaca dan menulis buku daripada sebongkah emas. Contohnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Jauzi, Imam Al Ghazali rahimahullah dan masih banyak ulama kita yang gemar berliterasi. Bahkan beberapa dari mereka dalam waktu satu malam mampu membaca dan menulis beratus-ratus buku. Ibadah mereka pun tidak ada yang tertinggal. Sehingga tidak heran para ulama kita menganggap buku dan pena adalah pendamping setianya. Pendamping yang tidak pernah megajak dalam keburukan.
Hal Ini membuktikan bahwa literasi itu sangat penting dalam kehidupan. Ini yang seharusnya menjadi tradisi dan budaya yang harus diwarisi oleh generasi bangsa.
Literasi di indonesia itu sendiri sudah menjadi tradisi sebelum merdeka diteriakkan. Hal yang demikian dibuktikan dengan lahirnya masyarakat yang bisa berliterasi, walaupun literasinya tidak sampai membaca beratus-ratus buku atau menulis dan menciptakan sebuah karya hebat. Akan tetapi, literasinya cukup berguna untuk kebutuhan jasmaninya saja. Padahal bisa dikatakan dulu masih sangat kurang wadah untuk mengasah ilmu, bahkan masyarakat belum mengenal yang namanya teknologi. Tapi semangat masyarakat untuk bisa berliterasi itu sangat kuat.
Namun tradisi literasi belum sempat menjadi budaya literasi di kalangan masyarakat indonesia, karena sudah digentarkan oleh berbagai macam  alat-alat canggih yang dilahirkan oleh teknologi. Ini merupakan salah satu dampak lahirnya problematika literasi di kalangan masyarakat.
Ada berbagai macam makam-makam literasi yang perlu kita ketahui.
Pertama, hanya sampai pada kemampuan membaca dan menulis untuk kepentingan pribadi. Makam ini banyak menyerang lansia. Masyarakat hanya butuh berliterasi ketika ada urusan pribadi misalnya menabung di Bank, menjual tanah, dan sebagainya. Dengan itu, mereka tidak dibodohi  oleh pihak-pihak yang berkaitan.
Kedua, kebiasaan membaca dan menulis itu hadir karena tuntutan profesional. Hal ini yang banyak menjadi problem di kalangan masyarakat yang berpendidikan. Tenaga pendidik berliterasi ketika mereka ada jadwal mengajarnya, begitupun dengan peserta didik maupun mahasiswa, berliterasi ketika ada tugas yang diberikan oleh guru atau dosennya.
Koleksi buku yang dibaca pun hanya yang berkaitan dengan tugas sekolah maupun tugas kuliah saja, padahal koleksi buku-buku inspirasi, motivasi, puisi, cerpen maupun novel merupakan langkah awal untuk melahirkan budaya literasi.
Namun reliatas yang terjadi sekarang, di sekolah dilarang keras membawa buku di luar mata pelajaran seperti tulisan-tulisan fiksi. Terlebih lagi kepada anak-anak didik yang masih duduk di bangku SD.
Hal demikian menjadi salah satu dampak hilangnya budaya literasi. Seharusnya sekolah tidak melarang membaca buku di luar buku mata pelajaran, dengan syarat buku  tersebut tidak mengandung unsur-unsur negatif di dalamnya yang dapat merusak pikiran anak didik.
Di perpustakaan sekolah pun seharusnya jangan hanya mengeloksi buku-buku tentang mata pelajaran saja. Buku motivasi, inspirasi, novel maupun cerpen seharusnya dikoleksi juga. Hal demikian agar kita bisa mengetahui bakat yang terpendam dalam diri anak didik. Apalagi sekarang banyak novel karya sastrawan islam seperti Habiburrahman, Asma Nadia, Helvitiana Rosa dan banyak lagi penulis-penulis muslim lainnya yang banyak mengandung pesan moralitas sehingga dapat memotivasi para pembaca.
Ketiga, orang berliterasi karena kebutuhan jiwanya. Orang akan senantiasa mengisi jiwanya dengan berbagai macam rutinitas membaca dan menulis. Makam literasi inilah yang hilang di kehidupan masyarakat sekarang ini. Terlebih kepada generasi penerus yang seharusnya bisa berkonstribusi untuk bangsa.
Kewajiban pemerintah hari ini adalah menunjang sarana dan prasarana yang akan mendukung penguasaan literasi yang berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena generasi yang baik merupakan aset paling berharga yang dimiliki bangsa.
Di samping peran pemerintah, peran orang-orang yang sudah sadar akan pentingnya literasi juga perlu. Ini serta merta dengan tujuan semoga dapat melihat wajah-wajah baru dalam barisan para pembaca dan penulis di Indonesia ini.
Jika tidak dimulai dari sekarang, kita semakin kehilangan generasi penerus bangsa yang berkualitas. Karena hadirnya gadget dapat merusak pola pikir generasi ketika dia menggunakannya tidak pada tempatnya, banyaknya tempat-tempat hiburan yang membuat generasi mengkesampingkan berliterasi, serta pengaruh globalisasi lainnya yang dapat merusak pola pikir mereka.
Saya tidak mengatakan bahwa lahirnya teknologi itu tidak penting dalam kehidupan. Apalagi literasi sekarang dapat diartikan pula paham teknologi. Namun kita harus bisa memilih dan memilah paham terknologi yang mana yang dimaksudkan.
Teknologi dan literasi merupakan suatu hal yang sama-sama berharga. Tanpa teknologi dalam berliterasi, kita sangat kesulitan untuk menulis, mengirim karya, mencari referensi dan banyak lagi kesulitan lainnya. Begitupun sebaliknya, tanpa membiasakan budaya literasi, kita akan menggunakan teknologi sesuai dengan yang kita inginkan, bukan sesuai dengan yang kita butuhkan. Bahkan waktu akan terbuang sia-sia karena terlalu sibuk mengurus teknologi.
Namun realitas sekarang, karena kita tidak mampu menggunakan teknologi sebagaimana mestinya, banyak masyarakat melupakan pentingnya literasi yang ketiga yaitu berliterasi karena kebutuhan jiwanya. Bisa dikatakan dari 100% jumlah warga negara Indonesia, hanya 30% yang buta aksara. Semua orang bahkan tahu berliterasi. Tapi untuk melahirkan literasi dalam jiwanya dari 100% masyarakat Indonesia, hanya 30% yang menganggap literasi itu adalah kebutuhan jiwanya dan 70% lainya hanya berliterasi karena kebutuhan pribadi dan tuntutan profesioanalnya saja.
Apalagi dengan adanya gadget dan berbagai macam media sosial yang dilahirkan oleh teknologi, maka sangat menguras waktu para penggunanya. Ketika aplikasi sosial medianya super lengkap terinstal di handphone, ada facebook, twitter, whatsApp, Instagram, telegram, imo, dan sebagainya. Bayangkan ketika semua aplikasi tersebut digunakan, apa banyak waktu kita untuk berliterasi? Tentu akan sangat sedikit.
Sekarang pilihan ada di tangan kita. Ketika kita tidak mampu mengendalikan teknologi, maka teknologi yang akan mengendalikannya.
Sekarang hal yang harus dilakukan  untuk menanggulangi hal tersebut adalah dengan mengobati mulai dari akarnya. Ketika saya menganalogikan manusia itu bagaikan pohon, maka untuk mengetahui kualitas pohon itu akan besar dan kuat, bisa dilihat dari akarnya. Ketika ranting pohon mati, bahkan tidak berdaun sama sekali, maka pohon itu masih bisa berdiri tegak dengan bantuan akarnya. Tetapi bagaimana ketika kejadiannya terbalik?, akar yang tidak kuat bahkan sudah mati?. Saya yakin walaupun daunnya masih hijau dan lebat, pasti akhirnya akan tumbang juga.
Jadi, cara yang efektif menanggulangi problematika berliterasi dalam era globalisasi di Indonesia ini, dengan memperbaiki mulai dari anak-anak. Pendidikan anak usia dini yang semakin mendapat perhatian masyakarat hendaknya mampu meningkatkan minat baca anak. Ketika anak sudah kuat budaya literasinya sejak dini, maka ketika sudah dewasa, literasi itu akan menjadi kebiasaannya. Namun yang diinginkan bukan hanya berliterasi untuk pribadinya maupun tuntutan profesional. Tapi menghadirkan literasi dalam jiwanya.
Ketika sudah menghadirkan literasi dalam jiwanya, maka si anak akan menjadikan literasi itu adalah kebutuhan. Bayangkan ketika di Indonesia ini, budaya literasi itu sudah dikembangkan sejak usia dini. Pasti hasilnya akan melahirkan banyak barisan para pembaca dan penulis yang hebat dan berkualitas.
Sekolah dan kampus saja tidak cukup menjadi wadah untuk belajar. Di luar sekolah juga harus ada wadah yang mendukung. Pemerintah harus memperhatikan hal itu, misalnya dengan membangun rumah baca atau taman baca di setiap kecamatan maupun desa atau kelurahan. Akan lebih baik lagi ketika literasi itu dijadikan sebagai program kerja di setiap desa maupun kelurahan. Seperti mengadakan kegiatan setiap pekan atau setiap bulan misalnya “Ahad Besama Buku”, atau “Akhir Pekan Bersama Buku”, atau tema menarik lainnya. Yang paling penting, harus menyiapkan sarana dan prasarana yang menunjang keberhasilan untuk membiasakan budaya literasi.
Masa depan negeri ini dapat dilihat dari bagaimana kualitas literasi anak-anak masa kini. Dengan memperkenalkan budaya literasi kepada anak-anak sejak dini  maka kita tak perlu khawatir lagi kalau mereka akan menjadi korban globalisasi atau peradaban modern.
















1 komentar: