Kata
literasi tentu bukan kata yang asing kita dengar. Mendengar kata literasi pasti
dalam pikiran kita berkenaan dengan bacaan dan tulisan. Yang perlu diketahui
paling dasar oleh masyarakat adalah seperti apakah literasi itu?.
Secara
sederhana memang literasi atau literer istilah lain dari paham aksara. Secara fungsional
yaitu kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berhitung, dan berbicara
serta kemampuan mengidentifikasi, mengurai dan memahami suatu masalah. Namun
dalam konteks sekarang, literasi memiliki arti yang lebih luas lagi yaitu literasi bisa berarti
melek teknologi, politik, berpikiran kritis, dan peka terhadap lingkungan
sekitar.
Oleh
karena itu, kemajuan suatu negara bukan hanya bermodalkan kekayaan alam yang
melimpah atau berhasilnya pembangunan infrastruktur maupun bagusnnya tatanan
suatu negara. Akan tetapi hadirnya orang-orang yang kuat literasinya dalam
negara, dapat melahirkan bangsa yang luar biasa.
Literasi
menduduki posisi yang paling penting dalam kehidupan. Al-Quran yang paling
pertama diturunkan memerintahkan Rasul kita Muhammad untuk membaca. “Bacalah
dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan”. Tidak sampai di situ, adanya perintah
untuk menulis, Dia bersumpah dalam kitab suci-Nya, “Demi pena dan apa yang mereka
tulis”.
Ketika
kita menengok sejarah, para ulama besar terdahulu pun sangat gemar berliterasi,
bahkan lebih mencintai mambaca dan menulis buku daripada sebongkah emas. Contohnya
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Jauzi, Imam Al Ghazali rahimahullah dan
masih banyak ulama kita yang gemar berliterasi. Bahkan beberapa dari mereka
dalam waktu satu malam mampu membaca dan menulis beratus-ratus buku. Ibadah
mereka pun tidak ada yang tertinggal. Sehingga tidak heran para ulama kita
menganggap buku dan pena adalah pendamping setianya. Pendamping yang tidak
pernah megajak dalam keburukan.
Hal
Ini membuktikan bahwa literasi itu sangat penting dalam kehidupan. Ini yang
seharusnya menjadi tradisi dan budaya yang harus diwarisi oleh generasi bangsa.
Literasi
di indonesia itu sendiri sudah menjadi tradisi sebelum merdeka diteriakkan. Hal
yang demikian dibuktikan dengan lahirnya masyarakat yang bisa berliterasi, walaupun
literasinya tidak sampai membaca beratus-ratus buku atau menulis dan
menciptakan sebuah karya hebat. Akan tetapi, literasinya cukup berguna untuk
kebutuhan jasmaninya saja. Padahal bisa dikatakan dulu masih sangat kurang
wadah untuk mengasah ilmu, bahkan masyarakat belum mengenal yang namanya
teknologi. Tapi semangat masyarakat untuk bisa berliterasi itu sangat kuat.
Namun
tradisi literasi belum sempat menjadi budaya literasi di kalangan masyarakat indonesia,
karena sudah digentarkan oleh berbagai macam alat-alat canggih yang dilahirkan oleh
teknologi. Ini merupakan salah satu dampak lahirnya problematika literasi di
kalangan masyarakat.
Ada
berbagai macam makam-makam literasi yang perlu kita ketahui.
Pertama,
hanya sampai pada kemampuan membaca dan menulis untuk kepentingan pribadi. Makam
ini banyak menyerang lansia.
Masyarakat hanya butuh berliterasi ketika ada urusan pribadi misalnya menabung
di Bank, menjual tanah, dan sebagainya. Dengan itu, mereka tidak dibodohi oleh pihak-pihak yang berkaitan.
Kedua,
kebiasaan membaca dan menulis itu hadir karena tuntutan profesional. Hal ini
yang banyak menjadi problem di kalangan masyarakat yang berpendidikan. Tenaga
pendidik berliterasi ketika mereka ada jadwal mengajarnya, begitupun dengan peserta
didik maupun mahasiswa, berliterasi ketika ada tugas yang diberikan oleh guru atau
dosennya.
Koleksi
buku yang dibaca pun hanya yang berkaitan dengan tugas sekolah maupun tugas
kuliah saja, padahal koleksi buku-buku inspirasi, motivasi, puisi, cerpen
maupun novel merupakan langkah awal untuk melahirkan budaya literasi.
Namun
reliatas yang terjadi sekarang, di sekolah dilarang keras membawa buku di luar mata
pelajaran seperti tulisan-tulisan fiksi. Terlebih lagi kepada anak-anak didik
yang masih duduk di bangku SD.
Hal
demikian menjadi salah satu dampak hilangnya budaya literasi. Seharusnya sekolah
tidak melarang membaca buku di luar buku mata pelajaran, dengan syarat
buku tersebut tidak mengandung
unsur-unsur negatif di dalamnya yang dapat merusak pikiran anak didik.
Di
perpustakaan sekolah pun seharusnya jangan hanya mengeloksi buku-buku tentang
mata pelajaran saja. Buku motivasi, inspirasi, novel maupun cerpen seharusnya dikoleksi
juga. Hal demikian agar kita bisa mengetahui bakat yang terpendam dalam diri
anak didik. Apalagi sekarang banyak novel karya sastrawan islam seperti
Habiburrahman, Asma Nadia, Helvitiana Rosa dan banyak lagi penulis-penulis
muslim lainnya yang banyak mengandung pesan moralitas sehingga dapat memotivasi
para pembaca.
Ketiga,
orang berliterasi karena kebutuhan jiwanya. Orang akan senantiasa mengisi
jiwanya dengan berbagai macam rutinitas membaca dan menulis. Makam literasi
inilah yang hilang di kehidupan masyarakat sekarang ini. Terlebih kepada
generasi penerus yang seharusnya bisa berkonstribusi untuk bangsa.
Kewajiban
pemerintah hari ini adalah menunjang sarana dan prasarana yang akan mendukung penguasaan
literasi yang berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena
generasi yang baik merupakan aset paling berharga yang dimiliki bangsa.
Di
samping peran pemerintah, peran orang-orang yang sudah sadar akan pentingnya
literasi juga perlu. Ini serta merta dengan tujuan semoga dapat melihat wajah-wajah
baru dalam barisan para pembaca dan penulis di Indonesia ini.
Jika
tidak dimulai dari sekarang, kita semakin kehilangan generasi penerus bangsa
yang berkualitas. Karena hadirnya gadget dapat merusak pola pikir generasi ketika
dia menggunakannya tidak pada tempatnya, banyaknya tempat-tempat hiburan yang
membuat generasi mengkesampingkan berliterasi, serta pengaruh globalisasi
lainnya yang dapat merusak pola pikir mereka.
Saya
tidak mengatakan bahwa lahirnya teknologi itu tidak penting dalam kehidupan. Apalagi
literasi sekarang dapat diartikan pula paham teknologi. Namun kita harus bisa
memilih dan memilah paham terknologi yang mana yang dimaksudkan.
Teknologi
dan literasi merupakan suatu hal yang sama-sama berharga. Tanpa teknologi dalam
berliterasi, kita sangat kesulitan untuk menulis, mengirim karya, mencari
referensi dan banyak lagi kesulitan lainnya. Begitupun sebaliknya, tanpa
membiasakan budaya literasi, kita akan menggunakan teknologi sesuai dengan yang
kita inginkan, bukan sesuai dengan yang kita butuhkan. Bahkan waktu akan
terbuang sia-sia karena terlalu sibuk mengurus teknologi.
Namun
realitas sekarang, karena kita tidak mampu menggunakan teknologi sebagaimana
mestinya, banyak masyarakat melupakan pentingnya literasi yang ketiga yaitu berliterasi
karena kebutuhan jiwanya. Bisa dikatakan dari 100% jumlah warga negara
Indonesia, hanya 30% yang buta aksara. Semua orang bahkan tahu berliterasi.
Tapi untuk melahirkan literasi dalam jiwanya dari 100% masyarakat Indonesia,
hanya 30% yang menganggap literasi itu adalah kebutuhan jiwanya dan 70% lainya
hanya berliterasi karena kebutuhan pribadi dan tuntutan profesioanalnya saja.
Apalagi
dengan adanya gadget dan berbagai macam media sosial yang dilahirkan oleh
teknologi, maka sangat menguras waktu para penggunanya. Ketika aplikasi sosial
medianya super lengkap terinstal di handphone,
ada facebook, twitter, whatsApp,
Instagram, telegram, imo, dan sebagainya. Bayangkan ketika semua aplikasi
tersebut digunakan, apa banyak waktu kita untuk berliterasi? Tentu akan sangat
sedikit.
Sekarang
pilihan ada di tangan kita. Ketika kita tidak mampu mengendalikan teknologi,
maka teknologi yang akan mengendalikannya.
Sekarang
hal yang harus dilakukan untuk
menanggulangi hal tersebut adalah dengan mengobati mulai dari akarnya. Ketika
saya menganalogikan manusia itu bagaikan pohon, maka untuk mengetahui kualitas
pohon itu akan besar dan kuat, bisa dilihat dari akarnya. Ketika ranting pohon
mati, bahkan tidak berdaun sama sekali, maka pohon itu masih bisa berdiri tegak
dengan bantuan akarnya. Tetapi bagaimana ketika kejadiannya terbalik?, akar yang
tidak kuat bahkan sudah mati?. Saya yakin walaupun daunnya masih hijau dan
lebat, pasti akhirnya akan tumbang juga.
Jadi,
cara yang efektif menanggulangi problematika berliterasi dalam era globalisasi
di Indonesia ini, dengan memperbaiki mulai dari anak-anak. Pendidikan anak usia dini yang semakin
mendapat perhatian masyakarat hendaknya mampu meningkatkan minat baca anak.
Ketika anak sudah kuat budaya literasinya sejak dini, maka ketika sudah dewasa,
literasi itu akan menjadi kebiasaannya. Namun yang diinginkan bukan hanya
berliterasi untuk pribadinya maupun tuntutan profesional. Tapi menghadirkan
literasi dalam jiwanya.
Ketika
sudah menghadirkan literasi dalam jiwanya, maka si anak akan menjadikan
literasi itu adalah kebutuhan. Bayangkan ketika di Indonesia ini, budaya literasi
itu sudah dikembangkan sejak usia dini. Pasti hasilnya akan melahirkan banyak
barisan para pembaca dan penulis yang hebat dan berkualitas.
Sekolah
dan kampus saja tidak cukup menjadi wadah untuk belajar. Di luar sekolah juga
harus ada wadah yang mendukung. Pemerintah harus memperhatikan hal itu,
misalnya dengan membangun rumah baca atau taman baca di setiap kecamatan maupun
desa atau kelurahan. Akan lebih baik lagi ketika literasi itu dijadikan sebagai
program kerja di setiap desa maupun kelurahan. Seperti mengadakan kegiatan
setiap pekan atau setiap bulan misalnya “Ahad Besama Buku”, atau “Akhir Pekan
Bersama Buku”, atau tema menarik lainnya. Yang paling penting, harus menyiapkan
sarana dan prasarana yang menunjang keberhasilan untuk membiasakan budaya
literasi.
Masa
depan negeri ini dapat dilihat dari bagaimana kualitas literasi anak-anak masa
kini. Dengan memperkenalkan budaya literasi kepada anak-anak sejak dini maka kita tak perlu khawatir lagi kalau
mereka akan menjadi korban globalisasi atau peradaban modern.

mantap kaka..
BalasHapuslanjutkan dan sukses