Minggu, 26 Agustus 2018

Puisi (Tambora Menyapa)



Saat kau menyapa, suaramu begitu  lembut
Bahkan lebih lembut daripada suara halilintar yang menggelegar membelah angkasa
Kau menyeruak di seluruh penjuru
Mengeluarkan semua dapur magmamu untuk melahap habis yang ada di sekitar

Tanganmu begitu cepat maraih, bagai tangan maut yang siap menyergap tanpa ampun
Kakimu melangkah begitu cepat, lebih cepat daripada gerakan awan yang setiap saat mengikuti langkahmu
Kemarahanmu lebih sadis dari pada kemarahan Fir’au kepada Musa
Mataku terbelalak saat melihat semburan awan panas itu

Saat kau menyapa, setitik cahaya seakan malu menampakkan sinarnya
Bahkan kerlipan kunang-kunang tidak terlihat
Semuanya hilang, semuanya berubah, semua lenyap ketika aku terbangun dari mimpi burukku
Sakit, perih, rasanya tak ada lagi waktuku untuk terisak kembali

Yang tersisa hanyalah puing-puing kesedihan
Mereka yang terluka, hanya bisa berbaring bisu di bawah kakimu
Biar kami merajut asa dan melihat kembali warna pelangi
Peristiwa pedih itu, akan terbingkai rapi dalam kenangan
Menggantikan potret haru alam ini menjadi potret abadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar