Saat kau menyapa, suaramu begitu lembut
Bahkan lebih lembut daripada suara
halilintar yang menggelegar membelah angkasa
Kau menyeruak di seluruh penjuru
Mengeluarkan semua dapur magmamu untuk
melahap habis yang ada di sekitar
Tanganmu begitu cepat maraih, bagai
tangan maut yang siap menyergap tanpa ampun
Kakimu melangkah begitu cepat, lebih
cepat daripada gerakan awan yang setiap saat mengikuti langkahmu
Kemarahanmu lebih sadis dari pada
kemarahan Fir’au kepada Musa
Mataku terbelalak saat melihat semburan
awan panas itu
Saat kau
menyapa, setitik cahaya seakan malu menampakkan sinarnya
Bahkan kerlipan
kunang-kunang tidak terlihat
Semuanya hilang,
semuanya berubah, semua lenyap ketika aku terbangun dari mimpi burukku
Sakit, perih,
rasanya tak ada lagi waktuku untuk terisak kembali
Yang tersisa hanyalah puing-puing
kesedihan
Mereka yang terluka, hanya bisa berbaring
bisu di bawah kakimu
Biar kami merajut asa dan melihat kembali
warna pelangi
Peristiwa pedih itu, akan terbingkai rapi
dalam kenangan
Menggantikan potret haru alam ini
menjadi potret abadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar