Minggu, 26 Agustus 2018

Surat Cinta


Aku sudah banyak membaca puisi, cerpen, novel, dan bacaan lainnya. Aku sudah banyak menghafal lagu-lagu, nasyid-nasyid maupun nyanyian lainnya. Namun hanya satu cara yang dapat mengubah kehidupanku yaitu membaca, memahami dan menghafal surat cinta dari langit ketujuh. Segala ketenangan dan kegembiraan yang tidak ternilai harganya dengan apapun, aku dapatkan setelah aku baca, pahami apalagi bisa menghafal surat cinta itu.

Angin berhembus sangat kencang, membuat daun yang berguguran itu berterbangan. Sementara ibu, sedang sibuk mempersiapkan barang-barangku untuk dibawa esok harinya. Aku berencana melanjutkan study di Makassar. Pastinya aku harus siap lahir dan batin jauh dari keluarga tercinta.
Tiba hari keberangkatanku, ibu hanya memberiku sebuah kotak kecil berukuran  sekitat 10 x 20 cm. Katanya kotak ini adalah sebuah hadiah terindah yang dia berikan, yang akan menemani hari-hariku.
Ibu hanya tesenyum dan berbisik di telingaku “Di dalam kotak itu berisi surat cinta. Dalam susasana apapun bacalah surat cinta itu, karena ketika kau baca, hatimu akan tenang” Ibuku memang jago memberikan motivasi.
Sekarang aku berada di kota Makassar yang dikenal dengan kota Daeng. Aku mengambil jurusan fisika di salah satu perguruan tinggi swasta. Mulai disibukkan dengan berbagai macam aktivitas perkuliahan. Belum lagi praktik di laboratorium, harus respon dengan asisten dan segalanya. Beberapa semester hanya aku lalui begitu saja dengan aktivitas perkuliahan. Ini merupakan aktivitas yang sangat melelahkan. Sepulang dari kampus, aku hendak mengambil  buku yang ada di rak. Ternyata kotak pemberian ibu masih ada di dekat rak buku itu. Teringat kata ibu, kalau dalam suasana apapun, bacalah surat cinta itu. Karena ketika kamu membacanya, maka kamu akan takjub mendengarnya. Ketika aku buka, aku dapati ayat yang artinya
Dan Kami jadikan tidurmu untuk istrahat [Q.S.An-Naba’[49] :9]

Setelah membacanya, aku merasa seakan surat itu mengetahui keadaanku sekarang yang sedang lelah karena bayaknya aktivitas kampus. Tapi lelah yang aku dapatkan bukan lelah yang bermanfaat. Hanya lelah akan kehidupan dunia. Dalam kotak pemberian ibu, ternyata di dalamya berisi Al-Quran dan terjemahan yang praktis untuk dibawa keman-mana.

“Pekan depan kita akan praktik Hukum Ohm, tapi sebelum itu, semua mahasiswa yang akan praktik harus bayar uang praktiknya di Bank Mandiri Syaria’ah” kata asisten lab menegaskan
Jika kami tidak membayar uang praktiknya, kami tidak bisa masuk dalam laboratorium. Dan tentunya nilai kami akan menjadi korbannya.
Antrian di Bank melebihi antrian dalam kapal, kami harus menuggu nama-nama kami disebut oleh petuga Bank.
Setelah sekian lama menunggu antrian yang begitu panjang, akhirnya namaku di panggil juga. Kuotak-atik tasku untuk mengambil uang, tapi tak kunjung kutemui dompetku. Padahal tadi sebelum ke Bank, aku hendak membeli minuman di kantin sebelah.
Hatiku sangat hancur kala itu, uang yang seharusnya kupakai dengan semestinya, malah kuhilangkan. Ditambah lagi rasa malu yang menggunung tinggi kepada semua orang yang ada di Bank. Seharusnya kubayar, malah uangnnya tidak ada. Apalagi jadwal praktikku tinggal tiga hari lagi. Bagaimana harus jelaskan sama ibu. Aku merasa kehidupan ini tidak adil terhadapku.
Aku ingat, pada saat aku baca surat cinta itu, aku pernah menemukan tulisan “Hanya dengan mengingatKu, hati akan menjadi tenang”.
Ini menakjubkan, kutemukan jawaban atas tanyaku “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”
Lagi-lagi surat cinta itu menjadi memotivator terbaik dari semua motivator yang pernah kutemui.

Pada semester berikutnya, di tengah sibuknya perkuliahan, aku mulai mencari kelompok belajar islam. Aku mulai bergabung disebuah lembaga dakwah kampus. Kami yang baru bergabung di situ, dibentuk suatu kelompok belajar islam yang masing-masing memiliki seorang murabbiyah yang akan menjelaskan materi-materi keislaman, dan seorang mudarrisah yang akan memperbaiki bacaan Al-Quran dan tentunya teman baru yang Maa syaa Allah selalu mengajak dalam kebaikan. Setiap pekan, kami harus menyetor hafalan Al-Quran kami di mudarrisah atau guru mengaji kami. Awalnya aku berpikiran bahwa menghafal Al-Quran itu sangat susah. Mungkin banyak orang yang memiliki anggapan sepertiku. Tapi aku yakin, anggapan ini tidak benar. Bukannya Allah telah menulis dalam surat cintanya:

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? [Al-Qamar [54] : 17]
Ayat ini memberikan penguat bahwa mempelajari Al-Qur’an itu mudah bagi siapa yang ingin belajar dengan sungguh-sungguh. Setelah diberikan pemahaman oleh mudarrisah bagaimana manfaat menghafal Al-Qur’an, aku makin semangat menghafalnya. Aku mulai menghafal dari surat An-Nas sampai Q.S. An-Nabaa’. Lembaga kami saat itu mengadakan lomba menghafal juz 30 untuk taraf mustawa satu. Salah satunya, aku adalah peserta lombanya. Aku berhasil menyambung ayat demi ayat yang diberikan oleh panitia. Alhamdulillah aku memenangkan juara pertama lomba menghafal dan panitia memberiku sebuah bingkisan istimewa yang berisi buku “Hafal Al-Qur’an Tanpa Nyantri”. Buku ini sangat bermanfaat sekali bagiku, karena berisi berbagai macam solusi dalam menghadapi kesulitan dalam menghafal Al-Quran. Aku sangat bahagia, bukan dengan juaranya, tapi karena aku bisa membuktikan terhadap diriku sendiri bahwa apa yang aku pikirkan dulunya, menghafal Al-Qur’an itu sulit, ternyata itu tidak benar. Apapun yang kita lakukan memang akan terasa sulit jika tidak dibarengi dengan niat yang sungguh-sungguh. aku lanjut menghafal lagi juz 29. Karena aku yakin, Allah akan mempermudah orang-orang yang mempunyai keinginan yang tinggi.
Inilah surat cinta dari langin ketujuh yang menjadi motivator terbaik dalam semua sisi kehidupan. Al Quranul karim.
Ayo menghafal surat cinta dari langit ketujuh! (Cerpen motivasi)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar