Minggu, 26 Agustus 2018

Puisi (Tambora Menyapa)



Saat kau menyapa, suaramu begitu  lembut
Bahkan lebih lembut daripada suara halilintar yang menggelegar membelah angkasa
Kau menyeruak di seluruh penjuru
Mengeluarkan semua dapur magmamu untuk melahap habis yang ada di sekitar

Tanganmu begitu cepat maraih, bagai tangan maut yang siap menyergap tanpa ampun
Kakimu melangkah begitu cepat, lebih cepat daripada gerakan awan yang setiap saat mengikuti langkahmu
Kemarahanmu lebih sadis dari pada kemarahan Fir’au kepada Musa
Mataku terbelalak saat melihat semburan awan panas itu

Saat kau menyapa, setitik cahaya seakan malu menampakkan sinarnya
Bahkan kerlipan kunang-kunang tidak terlihat
Semuanya hilang, semuanya berubah, semua lenyap ketika aku terbangun dari mimpi burukku
Sakit, perih, rasanya tak ada lagi waktuku untuk terisak kembali

Yang tersisa hanyalah puing-puing kesedihan
Mereka yang terluka, hanya bisa berbaring bisu di bawah kakimu
Biar kami merajut asa dan melihat kembali warna pelangi
Peristiwa pedih itu, akan terbingkai rapi dalam kenangan
Menggantikan potret haru alam ini menjadi potret abadi

Potret Tanah Air



 Kutatap langit bangsaku, hitam berkabut pedih
Awan kelam menggumpal di setiap pelosok negeri
Semua yang kulihat hanya warna hampa yang terbingkai dalam kepalsuan
Yang hadir hanya kegelapan yang membawa kedukaan tanah air
Indahnya negeri ini dibungkus rapi oleh kesombongan pangkat

Tanah airku, kegelapan sudah lama menjadi mimpiku
Mimpi yang selalu menemani dalam getirnya pengawasan malam
Rasanya sakit ketika melihat malam datang tanpa bintang
Tapi aku akan terus berjalan melintasi pikiran dan waktu
Namun yang kutemukan hanya kebohongan yang menari indah di setiap detik

Negeriku, mengapa kini kebenaran adalah kesalahan?
Aku melihat kejahatan yang tak pernah tidur di setiap hitamnya dinding malam
Jangan diam saja, terlalu banyak pertanyaan yang belum menemui simpulan
Potret tanah air ini akan selalu dihinggapi oleh api kegelapan
Ketika kebenaran yang sesungguhnya dilahap habis oleh penguasa negeri ini

Menggugurkan Gumam



Harapanku yang bersemayam dalam kalbu
Masihkah engkau meneropong relung hatiku?
Aku ingin menggugurkan gumam yang selama ini
menjadi teman setia
Teman yang selalu merenggutku dalam ketakutan
Teman yang selalu membawaku dalam kesengsaraan

Katamu, aku akan tersesat dalam gumamku
Kamu hanya menyuruhku menjadi penonton dalam semua
drama yang kau tunjukan
Kebohonganmu itu, menari indah di setiap detik
Kamu menyuruhku berdiri bersama mereka melihat api kebohonganmu
Bukankah langit kita sama? Tidak ada yang lebih berkuasa

Katamu,  aku tak boleh bersuara
Engkau telah menggarap semua harapanku
Ternyata kamu ingin menenggelamkannku dalam gumam
Kini, aku ingin bebas mengepakkan sayap-sayapku
Sayap yang dulunya rapuh dimakan waktu
Akanku buktikan kepadamu, aku akan menggugurkan gumam

Surat Cinta


Aku sudah banyak membaca puisi, cerpen, novel, dan bacaan lainnya. Aku sudah banyak menghafal lagu-lagu, nasyid-nasyid maupun nyanyian lainnya. Namun hanya satu cara yang dapat mengubah kehidupanku yaitu membaca, memahami dan menghafal surat cinta dari langit ketujuh. Segala ketenangan dan kegembiraan yang tidak ternilai harganya dengan apapun, aku dapatkan setelah aku baca, pahami apalagi bisa menghafal surat cinta itu.

Angin berhembus sangat kencang, membuat daun yang berguguran itu berterbangan. Sementara ibu, sedang sibuk mempersiapkan barang-barangku untuk dibawa esok harinya. Aku berencana melanjutkan study di Makassar. Pastinya aku harus siap lahir dan batin jauh dari keluarga tercinta.
Tiba hari keberangkatanku, ibu hanya memberiku sebuah kotak kecil berukuran  sekitat 10 x 20 cm. Katanya kotak ini adalah sebuah hadiah terindah yang dia berikan, yang akan menemani hari-hariku.
Ibu hanya tesenyum dan berbisik di telingaku “Di dalam kotak itu berisi surat cinta. Dalam susasana apapun bacalah surat cinta itu, karena ketika kau baca, hatimu akan tenang” Ibuku memang jago memberikan motivasi.
Sekarang aku berada di kota Makassar yang dikenal dengan kota Daeng. Aku mengambil jurusan fisika di salah satu perguruan tinggi swasta. Mulai disibukkan dengan berbagai macam aktivitas perkuliahan. Belum lagi praktik di laboratorium, harus respon dengan asisten dan segalanya. Beberapa semester hanya aku lalui begitu saja dengan aktivitas perkuliahan. Ini merupakan aktivitas yang sangat melelahkan. Sepulang dari kampus, aku hendak mengambil  buku yang ada di rak. Ternyata kotak pemberian ibu masih ada di dekat rak buku itu. Teringat kata ibu, kalau dalam suasana apapun, bacalah surat cinta itu. Karena ketika kamu membacanya, maka kamu akan takjub mendengarnya. Ketika aku buka, aku dapati ayat yang artinya
Dan Kami jadikan tidurmu untuk istrahat [Q.S.An-Naba’[49] :9]

Setelah membacanya, aku merasa seakan surat itu mengetahui keadaanku sekarang yang sedang lelah karena bayaknya aktivitas kampus. Tapi lelah yang aku dapatkan bukan lelah yang bermanfaat. Hanya lelah akan kehidupan dunia. Dalam kotak pemberian ibu, ternyata di dalamya berisi Al-Quran dan terjemahan yang praktis untuk dibawa keman-mana.

“Pekan depan kita akan praktik Hukum Ohm, tapi sebelum itu, semua mahasiswa yang akan praktik harus bayar uang praktiknya di Bank Mandiri Syaria’ah” kata asisten lab menegaskan
Jika kami tidak membayar uang praktiknya, kami tidak bisa masuk dalam laboratorium. Dan tentunya nilai kami akan menjadi korbannya.
Antrian di Bank melebihi antrian dalam kapal, kami harus menuggu nama-nama kami disebut oleh petuga Bank.
Setelah sekian lama menunggu antrian yang begitu panjang, akhirnya namaku di panggil juga. Kuotak-atik tasku untuk mengambil uang, tapi tak kunjung kutemui dompetku. Padahal tadi sebelum ke Bank, aku hendak membeli minuman di kantin sebelah.
Hatiku sangat hancur kala itu, uang yang seharusnya kupakai dengan semestinya, malah kuhilangkan. Ditambah lagi rasa malu yang menggunung tinggi kepada semua orang yang ada di Bank. Seharusnya kubayar, malah uangnnya tidak ada. Apalagi jadwal praktikku tinggal tiga hari lagi. Bagaimana harus jelaskan sama ibu. Aku merasa kehidupan ini tidak adil terhadapku.
Aku ingat, pada saat aku baca surat cinta itu, aku pernah menemukan tulisan “Hanya dengan mengingatKu, hati akan menjadi tenang”.
Ini menakjubkan, kutemukan jawaban atas tanyaku “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”
Lagi-lagi surat cinta itu menjadi memotivator terbaik dari semua motivator yang pernah kutemui.

Pada semester berikutnya, di tengah sibuknya perkuliahan, aku mulai mencari kelompok belajar islam. Aku mulai bergabung disebuah lembaga dakwah kampus. Kami yang baru bergabung di situ, dibentuk suatu kelompok belajar islam yang masing-masing memiliki seorang murabbiyah yang akan menjelaskan materi-materi keislaman, dan seorang mudarrisah yang akan memperbaiki bacaan Al-Quran dan tentunya teman baru yang Maa syaa Allah selalu mengajak dalam kebaikan. Setiap pekan, kami harus menyetor hafalan Al-Quran kami di mudarrisah atau guru mengaji kami. Awalnya aku berpikiran bahwa menghafal Al-Quran itu sangat susah. Mungkin banyak orang yang memiliki anggapan sepertiku. Tapi aku yakin, anggapan ini tidak benar. Bukannya Allah telah menulis dalam surat cintanya:

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? [Al-Qamar [54] : 17]
Ayat ini memberikan penguat bahwa mempelajari Al-Qur’an itu mudah bagi siapa yang ingin belajar dengan sungguh-sungguh. Setelah diberikan pemahaman oleh mudarrisah bagaimana manfaat menghafal Al-Qur’an, aku makin semangat menghafalnya. Aku mulai menghafal dari surat An-Nas sampai Q.S. An-Nabaa’. Lembaga kami saat itu mengadakan lomba menghafal juz 30 untuk taraf mustawa satu. Salah satunya, aku adalah peserta lombanya. Aku berhasil menyambung ayat demi ayat yang diberikan oleh panitia. Alhamdulillah aku memenangkan juara pertama lomba menghafal dan panitia memberiku sebuah bingkisan istimewa yang berisi buku “Hafal Al-Qur’an Tanpa Nyantri”. Buku ini sangat bermanfaat sekali bagiku, karena berisi berbagai macam solusi dalam menghadapi kesulitan dalam menghafal Al-Quran. Aku sangat bahagia, bukan dengan juaranya, tapi karena aku bisa membuktikan terhadap diriku sendiri bahwa apa yang aku pikirkan dulunya, menghafal Al-Qur’an itu sulit, ternyata itu tidak benar. Apapun yang kita lakukan memang akan terasa sulit jika tidak dibarengi dengan niat yang sungguh-sungguh. aku lanjut menghafal lagi juz 29. Karena aku yakin, Allah akan mempermudah orang-orang yang mempunyai keinginan yang tinggi.
Inilah surat cinta dari langin ketujuh yang menjadi motivator terbaik dalam semua sisi kehidupan. Al Quranul karim.
Ayo menghafal surat cinta dari langit ketujuh! (Cerpen motivasi)



Ketika Senja Mulai Hilang



Angin seakan menggelitik kulitnya, pepohonan bernyanyi riang melambai-lambaikan tangan indahnya dan hamparan awan tipis berarak mengikuti langkah mereka di setiap waktu. Tiruan bunyi titik-titik air hujan di luar sana mulai berjatuhan di jendela kaca itu. Di luar kelas gerimis mulai terdengar, sementara suasana kelas gaduh mengikuti nyanyian gerimis itu.
Ini adalah awal semester ganjil, bel berbunyi tiga kali pertanda bahwa jam pelajaran akan dimulai. Hembusan angin pagi memasuki celah-celah kecil di setiap ventilasi, sementara suasana kelas sangat ramai jika tidak ada guru yang mengajar.
 Ada guru yang datang teman-teman jangan ribut lagi!” teriak salah satu siswa mengingatkan temannya
Riski yang duduk di kursi paling depan di pojok kiri itu pun langsung menyiapkan teman-temannya. Riski adalah lelaki tampan yang otaknya sangatlah cerdas. Di setiap semester dia selalu menjadi juara di sekolah. Tidak sedikit siswa yang mengaguminya. Namun, dia hanya ingin fokus pada pelajaran.
Suara sepatu terdengar di luar ruangan kelas. Perlahan-lahan siswa mulai terdiam.
“Assalamualaikum...” suara guru memberi salam kepada siswa, sambil melangkah memasuki ruangan kelas dengan menenteng beberapa buku ditangannya
Dengan serentak siswa menjawab salam dari gurunya. Guru yang mengajar pagi ini adalah guru Fisika. Guru itu  bernama Pak Khaeruddin. Sosok guru yang disenangi oleh semua siswanya. Kebiasaan beliau sebelum menyampaikan materi pembelajaran adalah memberikan motivasi terlebih dahulu kepada semua siswanya agar mereka bisa semangat dalam menerima pelajaran yang ia sampaikan. Apalagi mata pelajaran Fisika, mata pelajaran yang sangat di benci oleh kebanyakan siswa. Tapi pak Khaeruddin punya strategi yang luar biasa untuk menyihir para siswanya.
“Kita kedatangan siswa baru, anak-anak. Bapak akan memanggilnya” sambil melangkah keluar di depan pintu. Pak Khaeruddin membawa siswa baru itu masuk dan berdiri di sampingnya. Dengan memakai jilbab putih dan menenteng tas merah muda di pundaknya dia berdiri di samping pak Khaeruddin.
 Perkenalkan dirimu, Nak. Agar mereka tahu siapa nama teman barunya” kata Pak Khaeruddin sambil tersenyum tipis
Dengan suara yang begitu lembut dan pandangan menunduk, Anita langsung memperkenalkan namanya kepada seluruh teman-teman di kelas. Anita adalah anak pindahan dari kota. Dia pindah karena kedua orang tuanya akan tinggal di desa ini.
Semenjak pindah di sekolah itu, setiap jam istirahat Anita selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan. Pun dengan Riski, perpustakaan sudah menjadi rumah keduanya. Pada saat Anita sedang serius membaca buku, tiba-tiba Riski duduk di dekatnya, berharap bisa bercerita singkat dengan siswa baru itu. Dengan keberanian yang penuh untuk memulai berbicara, akhirnya Riski berhasil mengajak anita bercerita dengannya. Semejak itulah Anita dan Riski selalu akrab dan mereka menjadi teman bermain. Sepulang dari sekolah, mereka berjalan menyusuri desa kecil yang indah itu sembari menikmati jejeran sawah-sawah penduduk.
Minggu depan, ulangan semester ganjil di sekolah dimulai. Para guru menuntut agar semua siswa  bisa belajar dengan giat untuk persiapan menghadapi ulangan. Ketika ulangan tiba, semua siswa di kelas itu harus datang tepat waktu agar bisa menyelesaikan soal dengan tepat. Tapi, pada hari pertama, Anita terlambat beberapa menit. Meski demikian, ia tetap mengumpulkan hasil ulangannya tepat waktu. Begitu pun hari-hari selanjutnya, dia selalu menjawab soal dengan cepat, serta mengumpulkan lembar jawaban sebelum waktu yang ditentukan habis. Pun Riski, dia menyelesaikan soal-soalnya dengan sangat baik.
Hari Senin adalah pengumuman hasil ulangan semester ganjil, hari yang membuat perasaan seluruh siswa berdebar-debar. Pak Khaeruddin adalah guru yang mengumumkannya. Beberapa siswa terlihat gelisah, ada yang melilit-lilitkan tangannya di jilbab dan terlihat siswa laki-laki saling berbisik menebak siapa yang akan dipanggil oleh pak Khaeruddin.
 Dimulai dari kelas sepuluh dan sebelas. Kini, giliran kelas duabelas. Semua siswa menanti dalam harap agar nama-nama mereka yang disebut.
Dengan memegang selembar kertas ditangannya pak Khaeruddin mulai memanggil dengan hitungan mundur.
“Yang menjadi juara ketiga pada semester ini adalah Sinta Dewi…”sambil memperbaiki kacamatanya.
Selanjutnya juara pertama dan kedua. Terlihat Anita menanti namanya dipanggil. Pun Riski serta siswa lainnya. Sambil melanjutkan mengumumkan juara pertama dan kedua pak khaeruddin semakin membuat suasana sekolah semakin tegang.
 “Selanjutnya bapak akan memanggil juara selanjutnya, yang meraih juara kedua adalah...” Pak Khaeruddin mengambil napas panjang entah sengaja atau memang kelelahan karena dari tadi berbicara terus menerus.
“Yang menjadi juara kedua adalah…Anita Purwaningsih dan yang menjadi juara pertama adalah Riski Ardiansyah” sambil menyuruh para juara berdiri di sampingnya. Selanjutnya pengumuman yang menjadi juara umum. Semua siswa yang ada di situ penasaran siapa yang akan menjadi juara umum pada semester kali ini. Terlebih kepada semua siswa yang berdiri di samping Pak Kharuddin. Semua siswa menanti dalam harap agar nama mereka di sebutkan.
 “ Juara umum kita pada semester ini diraih oleh..” pak Khaerudin meggantugkan kalimatnya, yang membuat para siswa semakin diluapkan oleh rasa penasaran.
Dengan lantang Pak Khaeruddin menyebutkan satu nama yang menjadi juara umum “Yang menjadi juara umum adalah...Riski Ardiansyah siswa kelas duabelas IPA 2kata pak Khaeruddin sambil menyuruh untuk berdiri di depan menerima hadiah atas prestasinya. Seakan suara lain tidak diperdulikan lagi, karena suara tepuk tangan menyelimuti sekolah itu.
 “Selamat yah... kamu telah meraih juara umum di sekolah ini” kata Anita sambil mengulurkan tangannya ke arah Riski
Denga senyum khasnya, Reski menyambut uluran tangan Anita “Terima kasih, Anita. Selamat juga untukmu”
Liburan sementer ganjil dua minggu, lumayan untuk menyegarkan otak setelah beberapa bulan mengikuti semester berjalan.
 “Nit aku mau ajak kamu ke tempat yang sangat indah sore ini” katanya sambil tersenyum menatap Nita
“Di mana itu, Ris” jawabnya penasaran
“Kamu akan tahu nanti”
Anita semakin penasaran kemana Riski membawanya pergi. Melihat Anita dibumbui oleh rasa penasaran, mereka langsung pergi ke tempat itu. Hembusan angin yang mengganggu ketenangan bambu-bambu seakan menyambut kedatangan mereka. Sementara, di sebelah barat sana, terlihat jingga dengan warna kuning kemerah-merahan. Persahabatan mereka semakin hari semakin kompak. Mereka selalu jalan bersama, dalam masalah prestasi pun mereka selalu unggul. Tempat itu merupakan tempat yang indah untuk menikmati senja. beberapa pasangan kekasih terlihat sedang menggoda pasangannya di tempat itu. Tapi berbeda dengan Riski dan Anita, mereka mengikrarkan janji bahwa mereka akan selalu jadi sahabat sampai waktu berhenti berputar.
“Senja di sore ini cantik yah, Nit. Tapi, aku tidak ingin persahabatan kita seperti senja yang indahnya hanya sesaat saja, keindahanya akan segera hilang ketika digantikan oleh malam yang gelap.” katanya sambil duduk memegang dagu.
Nita bangkit berdiri, merentangkan kedua tangannya sambil menikmati hembusan angin yang menerbangkan daun-daun. Pohon bambu pun ikut bergoyang riang bersamanya di senja yang indah itu.
“Riski, alam ini sudah menjadi saksi bahwa hari ini kita sudah mengikrarkan janji persahabatan kita” kata Anita sambil melangkahkan kakinya ke depan.
 Hari berganti hari, persahabatan mereka semakin kuat, lebih kuat dari pada pohon jati yang berdiri kokoh di sudut perkampungan itu. Seminggu lagi, waktu liburan selesai, sementara Anita tidak bisa diajak untuk melihat senja di tempat yang biasa itu, karena kesehatannya kurang bersahabat hari ini. Tiga hari berlalu, Anita juga belum beranjak dari tempat tidurnya. Matahari yang selalu menggelitiknya setiap pagi ternyata tidak berhasil membangkitkannya dari tempat tidur, sementara Riski terlihat gelisah dengan keadaan yang menimpa sahabatnya.
Setelah diperiksa oleh dokter, teryata Anita mempunyai riwayat penyakit yang mematikan. Kangker otak menyerang disetiap fungsi sarafnya. Dia dirawat dua hari di Rumah Sakit terdekat di desa itu. Semakin hari keadaannya semakin memburuk. Dokter menyarankan untuk dilakukan operasi. 
“Kring-kring” terdengar suara telepon di kamar tamu
Telepon itu dari keluarga Anita, terdengar suara tangisan ketika Riski mengangkat telepon itu. Ternyata berita duka dari sahabatnya Anita, bahwa dia telah menghembuskan napas terakhirnya saat senja sudah kembali ke ufuk barat. Air matanya tidak dapat lagi terbendungkan, tanpa menuggu waktu, Riski pun langsung berlari menuju rumah sahabatnya. Rasanya jantung tidak lagi berdetak melihat sahabatnya yang hanya terbujur kaku di tempat tidur itu.
“Nak, ada sesuatu yang dititipkan Anita untukmu” kata ibunya sambil mengusap air mata dipipi yang mulai berkeriput.
Aku ingin saat sore kita selalu menyaksikan senja, sebuah keindahan tersendiri saat kita menyaksikan dan melihatnya tenggelam menjelang malam. Aku pernah merindukanmu pada suatu senja. Aku merindukan duduk bersamamu ditemani pepohonan yang berdiri kokoh di pojok kiri itu. Dalam sujud kuingat,  aku tersungkur mengiba memohon disatukan denganmu sebagai seorang sahabat. Entah apa yang telah kulakukan. Aku memaki ketidak berhasilanku menjalani hidup. Tapi ada setitik riak dalam dada berkata jangan putus asa pada rahmatNya". Kembali tetesan suara mengulumku dalam hening. "Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Sesudah kesulitan ada kemudahan".
Hening...air mataku mengalir memenuhi ruanganku. Aku berkata pada diriku sendiri
 "Aku terima segala kehendakMu, aku tidak berkuasa atas apapun". Ternyata hari perlahan petang. Senja mulai hilang. Aku hanya merasa belum menemukan jawaban atas tanyaku. Mungkin bukan untuk dijawab, tapi kurasakan dan kujalani
Surat terakhir dari Anita itu, membuat air mata Riski semakin tidak terbendungkan lagi. Kini, persahabatan dua insan itu telah dipisahkan oleh dunia yang berbeda.
Anita harus tinggal bersamaku dan bernaung di bawahku untuk selama-lamanya. Akulah tanah yang memeluk jasad itu.

Literasi Di Era Globalisasi

Kata literasi tentu bukan kata yang asing kita dengar. Mendengar kata literasi pasti dalam pikiran kita berkenaan dengan bacaan dan tulisan. Yang perlu diketahui paling dasar oleh masyarakat adalah seperti apakah literasi itu?.
            Secara sederhana memang literasi atau literer istilah lain dari paham aksara. Secara fungsional yaitu kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berhitung, dan berbicara serta kemampuan mengidentifikasi, mengurai dan memahami suatu masalah. Namun dalam konteks sekarang, literasi memiliki arti yang lebih luas lagi yaitu literasi bisa berarti melek teknologi, politik, berpikiran kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar.
Oleh karena itu, kemajuan suatu negara bukan hanya bermodalkan kekayaan alam yang melimpah atau berhasilnya pembangunan infrastruktur maupun bagusnnya tatanan suatu negara. Akan tetapi hadirnya orang-orang yang kuat literasinya dalam negara, dapat melahirkan bangsa yang luar biasa.
Literasi menduduki posisi yang paling penting dalam kehidupan. Al-Quran yang paling pertama diturunkan memerintahkan Rasul kita Muhammad untuk membaca. “Bacalah dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan”. Tidak sampai di situ, adanya perintah untuk menulis, Dia bersumpah dalam kitab suci-Nya, “Demi pena dan apa yang mereka tulis”.
Ketika kita menengok sejarah, para ulama besar terdahulu pun sangat gemar berliterasi, bahkan lebih mencintai mambaca dan menulis buku daripada sebongkah emas. Contohnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Jauzi, Imam Al Ghazali rahimahullah dan masih banyak ulama kita yang gemar berliterasi. Bahkan beberapa dari mereka dalam waktu satu malam mampu membaca dan menulis beratus-ratus buku. Ibadah mereka pun tidak ada yang tertinggal. Sehingga tidak heran para ulama kita menganggap buku dan pena adalah pendamping setianya. Pendamping yang tidak pernah megajak dalam keburukan.
Hal Ini membuktikan bahwa literasi itu sangat penting dalam kehidupan. Ini yang seharusnya menjadi tradisi dan budaya yang harus diwarisi oleh generasi bangsa.
Literasi di indonesia itu sendiri sudah menjadi tradisi sebelum merdeka diteriakkan. Hal yang demikian dibuktikan dengan lahirnya masyarakat yang bisa berliterasi, walaupun literasinya tidak sampai membaca beratus-ratus buku atau menulis dan menciptakan sebuah karya hebat. Akan tetapi, literasinya cukup berguna untuk kebutuhan jasmaninya saja. Padahal bisa dikatakan dulu masih sangat kurang wadah untuk mengasah ilmu, bahkan masyarakat belum mengenal yang namanya teknologi. Tapi semangat masyarakat untuk bisa berliterasi itu sangat kuat.
Namun tradisi literasi belum sempat menjadi budaya literasi di kalangan masyarakat indonesia, karena sudah digentarkan oleh berbagai macam  alat-alat canggih yang dilahirkan oleh teknologi. Ini merupakan salah satu dampak lahirnya problematika literasi di kalangan masyarakat.
Ada berbagai macam makam-makam literasi yang perlu kita ketahui.
Pertama, hanya sampai pada kemampuan membaca dan menulis untuk kepentingan pribadi. Makam ini banyak menyerang lansia. Masyarakat hanya butuh berliterasi ketika ada urusan pribadi misalnya menabung di Bank, menjual tanah, dan sebagainya. Dengan itu, mereka tidak dibodohi  oleh pihak-pihak yang berkaitan.
Kedua, kebiasaan membaca dan menulis itu hadir karena tuntutan profesional. Hal ini yang banyak menjadi problem di kalangan masyarakat yang berpendidikan. Tenaga pendidik berliterasi ketika mereka ada jadwal mengajarnya, begitupun dengan peserta didik maupun mahasiswa, berliterasi ketika ada tugas yang diberikan oleh guru atau dosennya.
Koleksi buku yang dibaca pun hanya yang berkaitan dengan tugas sekolah maupun tugas kuliah saja, padahal koleksi buku-buku inspirasi, motivasi, puisi, cerpen maupun novel merupakan langkah awal untuk melahirkan budaya literasi.
Namun reliatas yang terjadi sekarang, di sekolah dilarang keras membawa buku di luar mata pelajaran seperti tulisan-tulisan fiksi. Terlebih lagi kepada anak-anak didik yang masih duduk di bangku SD.
Hal demikian menjadi salah satu dampak hilangnya budaya literasi. Seharusnya sekolah tidak melarang membaca buku di luar buku mata pelajaran, dengan syarat buku  tersebut tidak mengandung unsur-unsur negatif di dalamnya yang dapat merusak pikiran anak didik.
Di perpustakaan sekolah pun seharusnya jangan hanya mengeloksi buku-buku tentang mata pelajaran saja. Buku motivasi, inspirasi, novel maupun cerpen seharusnya dikoleksi juga. Hal demikian agar kita bisa mengetahui bakat yang terpendam dalam diri anak didik. Apalagi sekarang banyak novel karya sastrawan islam seperti Habiburrahman, Asma Nadia, Helvitiana Rosa dan banyak lagi penulis-penulis muslim lainnya yang banyak mengandung pesan moralitas sehingga dapat memotivasi para pembaca.
Ketiga, orang berliterasi karena kebutuhan jiwanya. Orang akan senantiasa mengisi jiwanya dengan berbagai macam rutinitas membaca dan menulis. Makam literasi inilah yang hilang di kehidupan masyarakat sekarang ini. Terlebih kepada generasi penerus yang seharusnya bisa berkonstribusi untuk bangsa.
Kewajiban pemerintah hari ini adalah menunjang sarana dan prasarana yang akan mendukung penguasaan literasi yang berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena generasi yang baik merupakan aset paling berharga yang dimiliki bangsa.
Di samping peran pemerintah, peran orang-orang yang sudah sadar akan pentingnya literasi juga perlu. Ini serta merta dengan tujuan semoga dapat melihat wajah-wajah baru dalam barisan para pembaca dan penulis di Indonesia ini.
Jika tidak dimulai dari sekarang, kita semakin kehilangan generasi penerus bangsa yang berkualitas. Karena hadirnya gadget dapat merusak pola pikir generasi ketika dia menggunakannya tidak pada tempatnya, banyaknya tempat-tempat hiburan yang membuat generasi mengkesampingkan berliterasi, serta pengaruh globalisasi lainnya yang dapat merusak pola pikir mereka.
Saya tidak mengatakan bahwa lahirnya teknologi itu tidak penting dalam kehidupan. Apalagi literasi sekarang dapat diartikan pula paham teknologi. Namun kita harus bisa memilih dan memilah paham terknologi yang mana yang dimaksudkan.
Teknologi dan literasi merupakan suatu hal yang sama-sama berharga. Tanpa teknologi dalam berliterasi, kita sangat kesulitan untuk menulis, mengirim karya, mencari referensi dan banyak lagi kesulitan lainnya. Begitupun sebaliknya, tanpa membiasakan budaya literasi, kita akan menggunakan teknologi sesuai dengan yang kita inginkan, bukan sesuai dengan yang kita butuhkan. Bahkan waktu akan terbuang sia-sia karena terlalu sibuk mengurus teknologi.
Namun realitas sekarang, karena kita tidak mampu menggunakan teknologi sebagaimana mestinya, banyak masyarakat melupakan pentingnya literasi yang ketiga yaitu berliterasi karena kebutuhan jiwanya. Bisa dikatakan dari 100% jumlah warga negara Indonesia, hanya 30% yang buta aksara. Semua orang bahkan tahu berliterasi. Tapi untuk melahirkan literasi dalam jiwanya dari 100% masyarakat Indonesia, hanya 30% yang menganggap literasi itu adalah kebutuhan jiwanya dan 70% lainya hanya berliterasi karena kebutuhan pribadi dan tuntutan profesioanalnya saja.
Apalagi dengan adanya gadget dan berbagai macam media sosial yang dilahirkan oleh teknologi, maka sangat menguras waktu para penggunanya. Ketika aplikasi sosial medianya super lengkap terinstal di handphone, ada facebook, twitter, whatsApp, Instagram, telegram, imo, dan sebagainya. Bayangkan ketika semua aplikasi tersebut digunakan, apa banyak waktu kita untuk berliterasi? Tentu akan sangat sedikit.
Sekarang pilihan ada di tangan kita. Ketika kita tidak mampu mengendalikan teknologi, maka teknologi yang akan mengendalikannya.
Sekarang hal yang harus dilakukan  untuk menanggulangi hal tersebut adalah dengan mengobati mulai dari akarnya. Ketika saya menganalogikan manusia itu bagaikan pohon, maka untuk mengetahui kualitas pohon itu akan besar dan kuat, bisa dilihat dari akarnya. Ketika ranting pohon mati, bahkan tidak berdaun sama sekali, maka pohon itu masih bisa berdiri tegak dengan bantuan akarnya. Tetapi bagaimana ketika kejadiannya terbalik?, akar yang tidak kuat bahkan sudah mati?. Saya yakin walaupun daunnya masih hijau dan lebat, pasti akhirnya akan tumbang juga.
Jadi, cara yang efektif menanggulangi problematika berliterasi dalam era globalisasi di Indonesia ini, dengan memperbaiki mulai dari anak-anak. Pendidikan anak usia dini yang semakin mendapat perhatian masyakarat hendaknya mampu meningkatkan minat baca anak. Ketika anak sudah kuat budaya literasinya sejak dini, maka ketika sudah dewasa, literasi itu akan menjadi kebiasaannya. Namun yang diinginkan bukan hanya berliterasi untuk pribadinya maupun tuntutan profesional. Tapi menghadirkan literasi dalam jiwanya.
Ketika sudah menghadirkan literasi dalam jiwanya, maka si anak akan menjadikan literasi itu adalah kebutuhan. Bayangkan ketika di Indonesia ini, budaya literasi itu sudah dikembangkan sejak usia dini. Pasti hasilnya akan melahirkan banyak barisan para pembaca dan penulis yang hebat dan berkualitas.
Sekolah dan kampus saja tidak cukup menjadi wadah untuk belajar. Di luar sekolah juga harus ada wadah yang mendukung. Pemerintah harus memperhatikan hal itu, misalnya dengan membangun rumah baca atau taman baca di setiap kecamatan maupun desa atau kelurahan. Akan lebih baik lagi ketika literasi itu dijadikan sebagai program kerja di setiap desa maupun kelurahan. Seperti mengadakan kegiatan setiap pekan atau setiap bulan misalnya “Ahad Besama Buku”, atau “Akhir Pekan Bersama Buku”, atau tema menarik lainnya. Yang paling penting, harus menyiapkan sarana dan prasarana yang menunjang keberhasilan untuk membiasakan budaya literasi.
Masa depan negeri ini dapat dilihat dari bagaimana kualitas literasi anak-anak masa kini. Dengan memperkenalkan budaya literasi kepada anak-anak sejak dini  maka kita tak perlu khawatir lagi kalau mereka akan menjadi korban globalisasi atau peradaban modern.