Minggu, 26 Agustus 2018

Ketika Senja Mulai Hilang



Angin seakan menggelitik kulitnya, pepohonan bernyanyi riang melambai-lambaikan tangan indahnya dan hamparan awan tipis berarak mengikuti langkah mereka di setiap waktu. Tiruan bunyi titik-titik air hujan di luar sana mulai berjatuhan di jendela kaca itu. Di luar kelas gerimis mulai terdengar, sementara suasana kelas gaduh mengikuti nyanyian gerimis itu.
Ini adalah awal semester ganjil, bel berbunyi tiga kali pertanda bahwa jam pelajaran akan dimulai. Hembusan angin pagi memasuki celah-celah kecil di setiap ventilasi, sementara suasana kelas sangat ramai jika tidak ada guru yang mengajar.
 Ada guru yang datang teman-teman jangan ribut lagi!” teriak salah satu siswa mengingatkan temannya
Riski yang duduk di kursi paling depan di pojok kiri itu pun langsung menyiapkan teman-temannya. Riski adalah lelaki tampan yang otaknya sangatlah cerdas. Di setiap semester dia selalu menjadi juara di sekolah. Tidak sedikit siswa yang mengaguminya. Namun, dia hanya ingin fokus pada pelajaran.
Suara sepatu terdengar di luar ruangan kelas. Perlahan-lahan siswa mulai terdiam.
“Assalamualaikum...” suara guru memberi salam kepada siswa, sambil melangkah memasuki ruangan kelas dengan menenteng beberapa buku ditangannya
Dengan serentak siswa menjawab salam dari gurunya. Guru yang mengajar pagi ini adalah guru Fisika. Guru itu  bernama Pak Khaeruddin. Sosok guru yang disenangi oleh semua siswanya. Kebiasaan beliau sebelum menyampaikan materi pembelajaran adalah memberikan motivasi terlebih dahulu kepada semua siswanya agar mereka bisa semangat dalam menerima pelajaran yang ia sampaikan. Apalagi mata pelajaran Fisika, mata pelajaran yang sangat di benci oleh kebanyakan siswa. Tapi pak Khaeruddin punya strategi yang luar biasa untuk menyihir para siswanya.
“Kita kedatangan siswa baru, anak-anak. Bapak akan memanggilnya” sambil melangkah keluar di depan pintu. Pak Khaeruddin membawa siswa baru itu masuk dan berdiri di sampingnya. Dengan memakai jilbab putih dan menenteng tas merah muda di pundaknya dia berdiri di samping pak Khaeruddin.
 Perkenalkan dirimu, Nak. Agar mereka tahu siapa nama teman barunya” kata Pak Khaeruddin sambil tersenyum tipis
Dengan suara yang begitu lembut dan pandangan menunduk, Anita langsung memperkenalkan namanya kepada seluruh teman-teman di kelas. Anita adalah anak pindahan dari kota. Dia pindah karena kedua orang tuanya akan tinggal di desa ini.
Semenjak pindah di sekolah itu, setiap jam istirahat Anita selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan. Pun dengan Riski, perpustakaan sudah menjadi rumah keduanya. Pada saat Anita sedang serius membaca buku, tiba-tiba Riski duduk di dekatnya, berharap bisa bercerita singkat dengan siswa baru itu. Dengan keberanian yang penuh untuk memulai berbicara, akhirnya Riski berhasil mengajak anita bercerita dengannya. Semejak itulah Anita dan Riski selalu akrab dan mereka menjadi teman bermain. Sepulang dari sekolah, mereka berjalan menyusuri desa kecil yang indah itu sembari menikmati jejeran sawah-sawah penduduk.
Minggu depan, ulangan semester ganjil di sekolah dimulai. Para guru menuntut agar semua siswa  bisa belajar dengan giat untuk persiapan menghadapi ulangan. Ketika ulangan tiba, semua siswa di kelas itu harus datang tepat waktu agar bisa menyelesaikan soal dengan tepat. Tapi, pada hari pertama, Anita terlambat beberapa menit. Meski demikian, ia tetap mengumpulkan hasil ulangannya tepat waktu. Begitu pun hari-hari selanjutnya, dia selalu menjawab soal dengan cepat, serta mengumpulkan lembar jawaban sebelum waktu yang ditentukan habis. Pun Riski, dia menyelesaikan soal-soalnya dengan sangat baik.
Hari Senin adalah pengumuman hasil ulangan semester ganjil, hari yang membuat perasaan seluruh siswa berdebar-debar. Pak Khaeruddin adalah guru yang mengumumkannya. Beberapa siswa terlihat gelisah, ada yang melilit-lilitkan tangannya di jilbab dan terlihat siswa laki-laki saling berbisik menebak siapa yang akan dipanggil oleh pak Khaeruddin.
 Dimulai dari kelas sepuluh dan sebelas. Kini, giliran kelas duabelas. Semua siswa menanti dalam harap agar nama-nama mereka yang disebut.
Dengan memegang selembar kertas ditangannya pak Khaeruddin mulai memanggil dengan hitungan mundur.
“Yang menjadi juara ketiga pada semester ini adalah Sinta Dewi…”sambil memperbaiki kacamatanya.
Selanjutnya juara pertama dan kedua. Terlihat Anita menanti namanya dipanggil. Pun Riski serta siswa lainnya. Sambil melanjutkan mengumumkan juara pertama dan kedua pak khaeruddin semakin membuat suasana sekolah semakin tegang.
 “Selanjutnya bapak akan memanggil juara selanjutnya, yang meraih juara kedua adalah...” Pak Khaeruddin mengambil napas panjang entah sengaja atau memang kelelahan karena dari tadi berbicara terus menerus.
“Yang menjadi juara kedua adalah…Anita Purwaningsih dan yang menjadi juara pertama adalah Riski Ardiansyah” sambil menyuruh para juara berdiri di sampingnya. Selanjutnya pengumuman yang menjadi juara umum. Semua siswa yang ada di situ penasaran siapa yang akan menjadi juara umum pada semester kali ini. Terlebih kepada semua siswa yang berdiri di samping Pak Kharuddin. Semua siswa menanti dalam harap agar nama mereka di sebutkan.
 “ Juara umum kita pada semester ini diraih oleh..” pak Khaerudin meggantugkan kalimatnya, yang membuat para siswa semakin diluapkan oleh rasa penasaran.
Dengan lantang Pak Khaeruddin menyebutkan satu nama yang menjadi juara umum “Yang menjadi juara umum adalah...Riski Ardiansyah siswa kelas duabelas IPA 2kata pak Khaeruddin sambil menyuruh untuk berdiri di depan menerima hadiah atas prestasinya. Seakan suara lain tidak diperdulikan lagi, karena suara tepuk tangan menyelimuti sekolah itu.
 “Selamat yah... kamu telah meraih juara umum di sekolah ini” kata Anita sambil mengulurkan tangannya ke arah Riski
Denga senyum khasnya, Reski menyambut uluran tangan Anita “Terima kasih, Anita. Selamat juga untukmu”
Liburan sementer ganjil dua minggu, lumayan untuk menyegarkan otak setelah beberapa bulan mengikuti semester berjalan.
 “Nit aku mau ajak kamu ke tempat yang sangat indah sore ini” katanya sambil tersenyum menatap Nita
“Di mana itu, Ris” jawabnya penasaran
“Kamu akan tahu nanti”
Anita semakin penasaran kemana Riski membawanya pergi. Melihat Anita dibumbui oleh rasa penasaran, mereka langsung pergi ke tempat itu. Hembusan angin yang mengganggu ketenangan bambu-bambu seakan menyambut kedatangan mereka. Sementara, di sebelah barat sana, terlihat jingga dengan warna kuning kemerah-merahan. Persahabatan mereka semakin hari semakin kompak. Mereka selalu jalan bersama, dalam masalah prestasi pun mereka selalu unggul. Tempat itu merupakan tempat yang indah untuk menikmati senja. beberapa pasangan kekasih terlihat sedang menggoda pasangannya di tempat itu. Tapi berbeda dengan Riski dan Anita, mereka mengikrarkan janji bahwa mereka akan selalu jadi sahabat sampai waktu berhenti berputar.
“Senja di sore ini cantik yah, Nit. Tapi, aku tidak ingin persahabatan kita seperti senja yang indahnya hanya sesaat saja, keindahanya akan segera hilang ketika digantikan oleh malam yang gelap.” katanya sambil duduk memegang dagu.
Nita bangkit berdiri, merentangkan kedua tangannya sambil menikmati hembusan angin yang menerbangkan daun-daun. Pohon bambu pun ikut bergoyang riang bersamanya di senja yang indah itu.
“Riski, alam ini sudah menjadi saksi bahwa hari ini kita sudah mengikrarkan janji persahabatan kita” kata Anita sambil melangkahkan kakinya ke depan.
 Hari berganti hari, persahabatan mereka semakin kuat, lebih kuat dari pada pohon jati yang berdiri kokoh di sudut perkampungan itu. Seminggu lagi, waktu liburan selesai, sementara Anita tidak bisa diajak untuk melihat senja di tempat yang biasa itu, karena kesehatannya kurang bersahabat hari ini. Tiga hari berlalu, Anita juga belum beranjak dari tempat tidurnya. Matahari yang selalu menggelitiknya setiap pagi ternyata tidak berhasil membangkitkannya dari tempat tidur, sementara Riski terlihat gelisah dengan keadaan yang menimpa sahabatnya.
Setelah diperiksa oleh dokter, teryata Anita mempunyai riwayat penyakit yang mematikan. Kangker otak menyerang disetiap fungsi sarafnya. Dia dirawat dua hari di Rumah Sakit terdekat di desa itu. Semakin hari keadaannya semakin memburuk. Dokter menyarankan untuk dilakukan operasi. 
“Kring-kring” terdengar suara telepon di kamar tamu
Telepon itu dari keluarga Anita, terdengar suara tangisan ketika Riski mengangkat telepon itu. Ternyata berita duka dari sahabatnya Anita, bahwa dia telah menghembuskan napas terakhirnya saat senja sudah kembali ke ufuk barat. Air matanya tidak dapat lagi terbendungkan, tanpa menuggu waktu, Riski pun langsung berlari menuju rumah sahabatnya. Rasanya jantung tidak lagi berdetak melihat sahabatnya yang hanya terbujur kaku di tempat tidur itu.
“Nak, ada sesuatu yang dititipkan Anita untukmu” kata ibunya sambil mengusap air mata dipipi yang mulai berkeriput.
Aku ingin saat sore kita selalu menyaksikan senja, sebuah keindahan tersendiri saat kita menyaksikan dan melihatnya tenggelam menjelang malam. Aku pernah merindukanmu pada suatu senja. Aku merindukan duduk bersamamu ditemani pepohonan yang berdiri kokoh di pojok kiri itu. Dalam sujud kuingat,  aku tersungkur mengiba memohon disatukan denganmu sebagai seorang sahabat. Entah apa yang telah kulakukan. Aku memaki ketidak berhasilanku menjalani hidup. Tapi ada setitik riak dalam dada berkata jangan putus asa pada rahmatNya". Kembali tetesan suara mengulumku dalam hening. "Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Sesudah kesulitan ada kemudahan".
Hening...air mataku mengalir memenuhi ruanganku. Aku berkata pada diriku sendiri
 "Aku terima segala kehendakMu, aku tidak berkuasa atas apapun". Ternyata hari perlahan petang. Senja mulai hilang. Aku hanya merasa belum menemukan jawaban atas tanyaku. Mungkin bukan untuk dijawab, tapi kurasakan dan kujalani
Surat terakhir dari Anita itu, membuat air mata Riski semakin tidak terbendungkan lagi. Kini, persahabatan dua insan itu telah dipisahkan oleh dunia yang berbeda.
Anita harus tinggal bersamaku dan bernaung di bawahku untuk selama-lamanya. Akulah tanah yang memeluk jasad itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar