Angin seakan
menggelitik kulitnya, pepohonan bernyanyi riang melambai-lambaikan tangan
indahnya dan hamparan awan tipis berarak mengikuti langkah mereka di setiap
waktu. Tiruan bunyi titik-titik air hujan di luar sana mulai berjatuhan di
jendela kaca itu. Di luar kelas gerimis mulai terdengar, sementara suasana
kelas gaduh mengikuti nyanyian gerimis itu.
Ini
adalah awal semester ganjil, bel berbunyi tiga kali pertanda bahwa jam pelajaran
akan dimulai. Hembusan angin
pagi memasuki celah-celah kecil di setiap ventilasi, sementara suasana
kelas sangat ramai jika tidak ada guru yang mengajar.
“Ada guru yang datang
teman-teman jangan ribut lagi!” teriak salah satu siswa mengingatkan temannya
Riski yang
duduk di kursi paling depan di pojok kiri itu pun langsung menyiapkan
teman-temannya. Riski adalah lelaki tampan yang otaknya sangatlah cerdas. Di setiap semester dia selalu menjadi juara di sekolah.
Tidak sedikit siswa yang mengaguminya. Namun, dia hanya ingin fokus pada
pelajaran.
Suara sepatu terdengar di luar ruangan kelas. Perlahan-lahan siswa mulai terdiam.
“Assalamualaikum...” suara guru memberi salam kepada siswa, sambil melangkah memasuki ruangan kelas dengan
menenteng beberapa buku ditangannya
Dengan
serentak siswa
menjawab salam dari gurunya. Guru yang mengajar pagi ini adalah guru Fisika. Guru itu bernama Pak Khaeruddin. Sosok guru yang
disenangi oleh semua siswanya.
Kebiasaan beliau sebelum menyampaikan materi pembelajaran adalah memberikan
motivasi terlebih dahulu kepada semua siswanya agar mereka
bisa semangat dalam menerima pelajaran yang ia sampaikan. Apalagi mata pelajaran Fisika, mata pelajaran yang
sangat di benci oleh kebanyakan siswa. Tapi pak Khaeruddin punya strategi yang
luar biasa untuk menyihir para siswanya.
“Kita
kedatangan siswa
baru, anak-anak. Bapak akan memanggilnya” sambil
melangkah keluar di depan
pintu. Pak Khaeruddin membawa siswa
baru itu masuk dan berdiri di sampingnya. Dengan memakai jilbab putih dan menenteng
tas merah muda di pundaknya dia berdiri di samping pak Khaeruddin.
“Perkenalkan
dirimu, Nak. Agar mereka tahu siapa nama teman
barunya” kata Pak Khaeruddin
sambil tersenyum tipis
Dengan suara yang begitu lembut dan pandangan menunduk, Anita
langsung memperkenalkan namanya kepada seluruh teman-teman di kelas. Anita adalah anak pindahan dari
kota. Dia pindah karena kedua orang tuanya akan tinggal di desa ini.
Semenjak pindah di sekolah itu, setiap jam istirahat Anita
selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan. Pun dengan Riski, perpustakaan
sudah menjadi rumah keduanya. Pada saat Anita sedang serius
membaca buku, tiba-tiba
Riski duduk di dekatnya, berharap bisa bercerita singkat dengan siswa baru
itu. Dengan keberanian yang penuh untuk memulai berbicara, akhirnya Riski
berhasil mengajak anita bercerita dengannya. Semejak itulah Anita dan Riski selalu akrab dan mereka menjadi
teman bermain. Sepulang dari sekolah, mereka berjalan menyusuri desa kecil yang
indah itu sembari menikmati jejeran sawah-sawah penduduk.
Minggu
depan, ulangan semester ganjil di sekolah dimulai. Para guru menuntut agar semua siswa bisa belajar dengan giat untuk persiapan
menghadapi ulangan. Ketika ulangan tiba,
semua siswa
di kelas itu harus datang tepat waktu agar
bisa menyelesaikan soal dengan tepat.
Tapi, pada hari
pertama,
Anita terlambat beberapa menit.
Meski demikian, ia tetap mengumpulkan
hasil ulangannya tepat waktu.
Begitu pun hari-hari selanjutnya, dia selalu menjawab soal dengan cepat, serta mengumpulkan lembar jawaban sebelum
waktu yang ditentukan habis. Pun Riski, dia menyelesaikan soal-soalnya dengan sangat baik.
Hari
Senin adalah pengumuman hasil ulangan semester ganjil, hari yang membuat perasaan seluruh siswa berdebar-debar.
Pak Khaeruddin adalah guru yang mengumumkannya. Beberapa siswa terlihat gelisah, ada yang
melilit-lilitkan tangannya di jilbab dan terlihat siswa laki-laki saling
berbisik menebak siapa yang akan dipanggil oleh pak Khaeruddin.
Dimulai dari kelas
sepuluh dan sebelas. Kini, giliran kelas duabelas. Semua siswa menanti dalam harap agar nama-nama mereka yang disebut.
Dengan memegang selembar kertas ditangannya pak
Khaeruddin mulai memanggil dengan hitungan mundur.
“Yang menjadi juara ketiga pada semester ini adalah
Sinta Dewi…”sambil memperbaiki
kacamatanya.
Selanjutnya juara pertama dan kedua. Terlihat Anita
menanti namanya dipanggil. Pun Riski serta siswa lainnya. Sambil melanjutkan
mengumumkan juara pertama dan kedua pak khaeruddin semakin membuat suasana
sekolah semakin tegang.
“Selanjutnya bapak
akan memanggil juara selanjutnya, yang meraih juara kedua adalah...” Pak
Khaeruddin mengambil
napas panjang entah sengaja atau memang kelelahan karena dari tadi berbicara terus
menerus.
“Yang menjadi juara kedua adalah…Anita Purwaningsih dan yang
menjadi juara pertama adalah Riski Ardiansyah” sambil menyuruh para juara
berdiri di sampingnya. Selanjutnya pengumuman yang menjadi
juara umum. Semua siswa yang
ada di situ penasaran siapa yang akan menjadi
juara umum pada semester kali ini.
Terlebih kepada semua siswa yang berdiri di samping Pak Kharuddin. Semua siswa
menanti dalam harap agar nama mereka di sebutkan.
“ Juara umum kita pada semester ini diraih oleh..” pak Khaerudin meggantugkan kalimatnya, yang membuat
para siswa semakin diluapkan oleh rasa penasaran.
Dengan lantang Pak Khaeruddin menyebutkan satu nama yang
menjadi juara umum “Yang menjadi juara umum adalah...Riski Ardiansyah siswa kelas duabelas IPA
2” kata
pak Khaeruddin sambil menyuruh untuk berdiri di depan menerima hadiah
atas prestasinya. Seakan suara lain tidak diperdulikan lagi, karena
suara
tepuk tangan menyelimuti
sekolah itu.
“Selamat yah... kamu telah meraih juara umum di sekolah ini” kata Anita sambil mengulurkan tangannya ke arah Riski
Denga senyum khasnya,
Reski menyambut uluran tangan Anita “Terima kasih, Anita. Selamat juga untukmu”
Liburan sementer ganjil dua minggu, lumayan untuk menyegarkan otak setelah beberapa
bulan mengikuti semester berjalan.
“Nit aku mau ajak kamu ke tempat
yang sangat indah sore ini” katanya sambil tersenyum menatap Nita
“Di mana itu, Ris” jawabnya penasaran
“Kamu akan tahu nanti”
Anita semakin
penasaran kemana Riski membawanya pergi. Melihat Anita dibumbui oleh rasa
penasaran, mereka langsung pergi ke tempat itu. Hembusan angin yang mengganggu
ketenangan bambu-bambu seakan menyambut kedatangan mereka. Sementara, di
sebelah barat sana, terlihat jingga dengan warna kuning kemerah-merahan. Persahabatan mereka semakin
hari semakin kompak. Mereka selalu jalan bersama, dalam masalah prestasi pun
mereka selalu unggul. Tempat itu merupakan tempat yang indah untuk menikmati
senja. beberapa pasangan kekasih terlihat sedang menggoda pasangannya di tempat
itu. Tapi berbeda dengan Riski dan Anita, mereka mengikrarkan janji bahwa
mereka akan selalu jadi sahabat sampai waktu berhenti berputar.
“Senja
di sore ini cantik yah, Nit. Tapi, aku tidak ingin persahabatan kita seperti
senja yang indahnya hanya sesaat saja, keindahanya akan segera hilang ketika digantikan
oleh malam yang gelap.” katanya sambil duduk memegang dagu.
Nita
bangkit berdiri, merentangkan kedua tangannya sambil menikmati hembusan angin
yang menerbangkan daun-daun. Pohon bambu pun ikut bergoyang riang bersamanya di
senja yang indah itu.
“Riski,
alam ini sudah menjadi saksi bahwa hari ini kita sudah mengikrarkan janji
persahabatan kita” kata Anita sambil melangkahkan kakinya ke depan.
Hari berganti hari, persahabatan mereka
semakin kuat, lebih kuat dari pada pohon jati yang berdiri kokoh di sudut perkampungan
itu. Seminggu lagi, waktu liburan selesai, sementara Anita tidak bisa diajak
untuk melihat senja di tempat yang biasa itu, karena kesehatannya kurang bersahabat
hari ini. Tiga hari berlalu, Anita juga belum beranjak dari tempat tidurnya.
Matahari yang selalu menggelitiknya setiap pagi ternyata tidak berhasil
membangkitkannya dari tempat tidur, sementara Riski terlihat gelisah dengan
keadaan yang menimpa sahabatnya.
Setelah
diperiksa oleh dokter, teryata Anita mempunyai riwayat penyakit yang mematikan.
Kangker otak menyerang disetiap fungsi sarafnya. Dia dirawat dua hari di Rumah
Sakit terdekat di desa itu. Semakin hari keadaannya semakin memburuk. Dokter menyarankan untuk dilakukan operasi.
“Kring-kring”
terdengar suara telepon di kamar tamu
Telepon itu
dari keluarga Anita, terdengar suara tangisan ketika Riski mengangkat telepon
itu. Ternyata berita duka dari sahabatnya Anita, bahwa dia telah menghembuskan
napas terakhirnya saat senja sudah kembali ke ufuk barat. Air matanya tidak
dapat lagi terbendungkan, tanpa menuggu waktu, Riski pun langsung berlari menuju rumah sahabatnya.
Rasanya jantung tidak lagi berdetak melihat sahabatnya yang hanya terbujur kaku
di tempat tidur itu.
“Nak,
ada sesuatu yang dititipkan Anita untukmu” kata ibunya sambil mengusap air mata
dipipi yang mulai berkeriput.
“Aku ingin
saat sore kita selalu
menyaksikan senja, sebuah
keindahan tersendiri saat kita menyaksikan dan melihatnya tenggelam menjelang
malam. Aku pernah
merindukanmu pada suatu senja. Aku merindukan duduk bersamamu ditemani pepohonan yang
berdiri kokoh di pojok kiri itu. Dalam sujud kuingat, aku tersungkur mengiba memohon disatukan
denganmu sebagai
seorang sahabat. Entah
apa yang telah kulakukan. Aku memaki ketidak berhasilanku menjalani hidup. Tapi
ada setitik riak dalam dada berkata “jangan
putus asa pada rahmatNya". Kembali tetesan suara mengulumku dalam hening.
"Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Sesudah kesulitan ada
kemudahan".
Hening...air mataku mengalir
memenuhi ruanganku. Aku berkata pada diriku sendiri
"Aku terima segala kehendakMu, aku tidak
berkuasa atas apapun". Ternyata hari perlahan petang. Senja mulai hilang. Aku
hanya merasa belum menemukan jawaban atas tanyaku. Mungkin bukan untuk dijawab,
tapi kurasakan dan kujalani”
Surat terakhir dari Anita itu, membuat air mata Riski semakin tidak terbendungkan lagi. Kini, persahabatan dua insan itu telah dipisahkan oleh dunia yang berbeda.
Anita harus tinggal bersamaku dan bernaung di bawahku untuk selama-lamanya. Akulah
tanah yang memeluk jasad itu.